Selasa, 19 Maret 2013

URGENSITAS PENGKADERAN

URJENSITAS PENGKADERAN DI TUBUH NAHDHIYYIN
By : Ulil Albab  QUDSIYYAH.
Kehidupan merupakan suatu hal yang mengisyaratkan suatu ketertarikan akan khayalan fatamorgana dunia yang menggiurkan hati untuk meraih keinginan menjadi seorang yang di anggap penting dalam strata sosial kehidupan masyarakat, sehingga banyak individu yang berwatak brutal akan merebutkan sebuah kursi kekuasaan pemimpin yang menggiurkan dan bersifat menipu. Diperlukan adanya pendidikan untuk dapat merekrontuksi pola pikir kepemimpinan yang dapat mengaplikasikan dan memasukan ke dalam sebuah ide kreatif terhadap ketimpangan kepemimpinan.
Maka secara praktis disetiap elemen keorganisasian perlu adanya rekontruksi untuk dapat  mengkordinasi lagi berbagai polemik sisitem regenerasi yang masih carut–marut akan terciptanya keberadaan keorganisasian yang efektif dalam menjalankan kebijakan keorganasian, karena regenerasi dalam keorganisasian merupan suatu yang mutlak dalam membaharui estafet kepemimpinan yang ditujukan pada para generasi muda yang potensial.
Secara implisit situasi yang tersaji dalam sebuah reposisi kepimimpinan merupakan hal yang fundamental dalam proses demokrasi suatu keorganisasian, khususnya keorganisasian di kalangan nahdliyyin, maka reposisi yang berkarakter merupakan jalan penyelesaian yang cukup efektif untuk menambah integritas sebagai lembaga Islam terbesar di Indonesia.
 Menurut asumsi Bapak Dr. Fatah Syukur, selaku Dosen dari IAIN Walisongo Semarang, tentang proses regenerasi Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang berkarakter, “regenerasi merupakan hal yang alamiyah, memang organisasi adalah kader, karena dari wadah NU itulah nantinya kader NU akan di distribusikan ke berbagai tempat. Seperti yang kita dengar perkataan dari kyai-kyai bahwa 'NU ada di mana-mana, tapi NU itu tidak ke mana-mana'.  Pernyataan itu menurut saya sangat bagus sekali dan perlu direalisasikan. Tapi kenyataannya belum terlaksana dengan baik, yang terjadi malah kader-kader NU ke mana-mana dan tidak ada di mana-mana. Disaat kader NU ada di mana-mana, nanti kontribusinya bisa kembali pada NU. Seharusnya NU bisa diberbagi bidang, seperti bidang birokrasi, politik, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan lain sebagainya. "NU itu organisasi yang unik, karena NU masih dibatasi oleh keturunan darah biru taukah tidak. Sehingga orang yang berdarah biru lebih diutamakan, sementara bagi selain orang yang tidak mempunyai garis keturunan darah biru biasanya terpinggirkan dan tidak menjadi jaminan.Maka dari itu, kedepannya hal seperti itu harus di minimalisir, agar warga NU menjadi jamaah dan organisasi NU menjadi jamiyyah yang professional,” terang beliau ketika di wawancarai di kantornya”.
   Lalu bagaimana agar pengkaderan dalam keorganisasian lebih berkarakter? Menurut Bapak Abu Hapsin, MA, Ph,  "Sebuah oganisasi yang harus memiliki model pemahaman keagamaan yang tawassud, tawazzun, tasammuh dalam jiwanya. Jadi dengan begitu, generasi harus mempunyai karakter seperti itu. Pengurus organisasi  yang bertanggung jawab dalam membangun karakter kader-kadernya".
Generasi yang bagus adalah generasi yang mempertimbangkan tujuan organisasi. Jadi generasi yang ingin kita bangun  harus berpegang teguh pada tujuan semula, Sebuah organisasikan bukan milik pribadi, akan tetapi organisasi milik masyarakat. Jadi dengan adanya regenerasi sangat berguna untuk  menunjang  berjalannya keorganisasian. Reposisi yang representatif  dalam syariah islam adalah seperti yang sudah di terapkan saat pergantian tampuk kepemimpinan Rasulullah ke tangan khulafaur rosyidin, Abu Bakar yang notabene Sahabat terdekat Rasulullah secara aklamasi dipilih Sahabat Muhajirin dan Ansar untuk mengangkat Abu Bakar menjadi seorang pionir pemimpin Islam, hal itu dikarenakan kepercayaan para Sahabat atas intregitas keimanan Sahabat Abu Bakar, akan tetapi setelah sepeninggalnya mulai tersaji perselisihan akan pengganti Abu Bakar, serta mulai adanya perseteruan mengenai repoisisi kepemimpinan Islam disebabkan nota ketidak kesepahaman yang mementingkan ego masing-masing, maka penyelarasan sistematika pengkaderan dulu dan sekarang sangat diperlukan.
Akulturasi Pengkaderan
Bangsa kita saat ini sedang mengalami banyak kelangkaan, sejak dari kelangkaan rohaniawan, kelangkaan ulama, kelangkaan kepemimipinan berkarakter, telah demikian luas menggejala. Hal itu tidak lain karena bangsa ini lupa melaksanakan kederisasi, baik bersifat pendidikan formal, maupun hanya sekedar memberikan pengalaman. Karena hampir semua bidang kehidupan telah dihayati secara politik, maka kaderisasi dianggap ancaman paling serius, bagi kemapaman kedudukan seorang pemimpin. Ada anggapan bahwa munculnya kader-kader muda selalu dicurigai, kalau perlu disingkirkan, agar tidak menjadi pesaing dimasa depan. Hal tersebut akan mengakibatkan pengkerdilan generasi. Dulu di NU tokoh seperti KH Abdullah Shiddiq, KH Wahid Hasyim, bahkan KH Syaifuddin Zuhri memegang tumpuk kepemimpinan PBNU dalam usia 35 tahun, sekarang orang seusia itu baru layak memimipin PMII atau Ansor.
Problematika semacam itu akan berakibat terjadinya krisis kader, baik kader keulamaan, kader kepemimpinan dan sebagainya. Gejala tersebut umumnya terjadi untuk saat ini, di mana para pemimipin memepetahankan posisisnya  dengan membonsai para kadernya. Untuk itulah, NU sebagai organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, sangat diperlukan adanya regenerasi mulai dari strata bawah hingga strata atas.
"Kader NU zaman dahulu, banyak berlatarbelakang alumni pondok pesantren, sebab pondok pesantren pada saat itu sangat berperan dalam menyumbang lahirnya kader-kader NU," ungkap bapak Abu Hapsin yang saat ini juga sebagaipengurus PWNU Jawa Tengah. Pendapat beliau mengenai kaderisasasi pada era dulu memang berbeda dengan kaderisasi saat ini. Beliau memberi gambaran bahwa tubuh NU memiliki 2 macam leadership (kepemipinan), yaitu kepemimipinan Syuriah dan kepemimipinan Tanfidziyyah. Disini NU tetap mengutamakan para kiyai jebola pondok pesantren guna merumuskan dan menentukan kebijakan suatu masalah, apakah layak ataukah tidak. Sementara Tanfidziyyah  hanya melaksankan kebijakan yang ditetapkan oleh Syuriah. "Sistem seperti ini tidak ada di organisasi lain, maka akan kita pertahankan dan dipadukan dengan perkembangan zaman," tegas beliau.
Berangkat dari gambaran tadilah beliau beranggapan kalau kader-kader NU itu tidak selamanya harus dari pondok pesantren. Akan tetapi, ditubuh Tanfidziyyah juaga diperlukan adanya sosok-sosok kader-kader akademis. Hal ini menunjukkan saat ini NU tidak menafikan keberadaan kader NU yang tidak  berlatar belakang santri. "Banyak kader-kader NU yang telah merambah ke berbagai bidang, tak seperti dulu yang hanya sebagai guru ngaji. Tetapi untuk saat ini banyak yang menjadi dokter, bahkan ada yang telah terjun di dunia sains", ujar pria kelahiran semarang .
Segala sesuatu memang tidak selamanya berjalan mulus. Seringkali batu menghambat perjalanan yang belum sampai pada titik tujuan. Begitupun regenerasi pengkaderan yang dialami oleh NU. Bapak Abu Hapsin, MA, Ph, berpandangan, ada beberapa fenomena dimana kader-kader yang tak pernah berkecimpung di organisasi langsung loncat menjadi pemimpin. Karena pada umumnya, pemimpin itu merangkak dari bawah dahulu. Menurut beliau , pemimpin merupakan sebuah kepercayaan. Kalau seandainya ada orang yang hanya memiliki kemampuan teoritis saja tidak menjdi jaminan, misalnya  pemimpin tadi tidak amanah, otomatis masyarakat tidak akan memilihnya sebagai pemimpin. Persoalannya adalah kepercayaan, jadi perilaku sesorang menjadi salah satu faktor di mata masyarakat.  Tidak heran lagi kalau ada peristiwa  ketika para putra mahkota yang minim pengalaman diangkat menjadi seorang pemimpin keorganisasian NU. "Namun, kekurangan tersebut dapat minimalisir pada sisitem pengkaderan ditubuh Tanfidziyyah, karena  saat ini sudah berjalan dengan semestinya," tutur beliau ketika menanggapi hambatan yang dialami oleh NU.
Disamping regenerasi pengkaderan, perlu ditanamkan juga ideologi nahdliyyin pada setiap individu kader. Karena ideologi juga berperan sejauh mana  para kader berjuang untuk organisasi. Namun, untuk saat ini diakui atau tidak kalau keberadaan ideologi nahdliyyin sudah agak berjurang sayap-sayap integritasnya dimata generasi muda. "Persoalannya, di era global ini sangat banyak saluran-saluran untuk bisa menyalurkan ketidaksetujuan sebuah aspirasi. Sehingga ketika ada sekelompok  yang tidak setuju, maka hal itu akan mudah terbaca oleh masyarakat luas. Semisal ketika ada pihak-pihak yang ingin mengkritik pemimpin NU, maka akan begitu mudahnya  informasi tersebut mudah sampai ke telinga masyarakat, seperti secepat orang mengakses di google. Jadi  akses informasi menjadi salah satu faktor penyebab ideologi nahdliyyin menjadi berkurang," papar beliau.
Resolusi Pengkaderan
Kaderisasi memamg topik yang telah sejak lama dibahas oleh NU. Namun kenyataanya memang sulit dan belum tampak keefektifannya apa yang telah dilakukan oleh NU sendiri. Hal ini senada dengan pernyataan yang pernah lontarkan ole mantan Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) KH Hasyim Muzadi, pada saat menjelang muktamar NU ke-32, bahwa masalah terberat yang dihadapi adalah regenerasi. Sebab, banyak orang yang mulai tidak mengikuti nilai luhur NU. Tidak sampai disitu, beliau bapak Hasyim  juga menilai pemilihan kader yang tidak memahami dan menerapkan nilai luhur NU akan mengikis NU. Karenanya, semua pimpinan dan kader NU harus memasuki muktamar dengan introspeksi dan kewaspadaan. Selain itu, ada lima hal yang harus difokuskan oleh NU, kelima hal itu adalah pendidikan, kesehatan, masalah internasional, keumatan, dan konsolidasi organisasi. "Masalah pendidikan yang akan dibicarakan ada dua model, pendidikan umum bertaraf internasional dan pondok pesantren bertaraf internasional yang berbasis Al Quran dan sains teknologi. Untuk masalah kesehatan pada labelisasi proyek kesehatan NU," kata KH Hasyim Muzadi seperti yang pernah dilansir kompas.com.
Sementara itu IPNU-IPPNU adalah organisasi pelajar yang sejak kelahirannya disiapkan sebagai wadah kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU). Karena itulah agenda kaderisasi menjadi 'titik tempur' utama. IPNU-IPPNU masa depan harus dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya tangguh secara intelektual dan memiliki keunggulan akhlak serta terampil berorganisasi, melainkan juga siap tempur di medan peradaban yang makin kompleks.
   Tentu untuk merealisasikan itu, hal yang mesti dilakukan adalah penguatan kelembagaan organisasi. Tak dipungkiri, masa transisi yang kini tengah dijalani memberikan konsekuensi yang tidak sedikit dalam ranah keorganisasian. Konseptualisasi IPNU-IPPNU setelah kembali ke pelajar belum selesai. Lalu bagaimana untuk kaderisasi nahdliyyin  khususnya di tubuh  IPNU-IPPNU demi kemajuan kalangan pelajar NU? Menurut Bapak Abu Hapsin, MA, Ph, pertama yang harus dilakukan adalah adanya langkah-langkah yang tepat. Kader-kader NU harus di data secara lengkap, lalu dicari kemampuannya dibidang apa. Kemampuan itulah yang harus bisa dimanfaatkan bagi organisasi NU. "Karena NU merupakan  organisasi yang besar, makanya NU itu harus bisa memfasilitasi kader-kedernya supaya mereka merasa di orangkan dan dapat memberi kemanfaatkan terhadap NU. Misalnya ada kader-kader yang memiliki keahlian seperti sebagai insinyur pertanian , kalau NU tidak menyediakan lahan buat mereka, lalu kalau bukan NU, siapa lagi? Jadi semestinya NU harus mempunyai progam pemberdayaan Masyarakat. Inilah yang memang belum dilakukan oleh NU," pungkas beliau.
 Ciutkan pos ini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar